Hujan dan Azab

Indonesia yang elok dan hijau, melintas garis katulistiwa, Allah telah berikan negeri yang indah dan subur, hutan, sawah, laut yang luas, hujan, dan semuanya adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa. Sungguh sangat besar nikmat yang Allah berikan, kalau kita lihat dan bandingkan di negeri padang pasir, cuaca yang sangat panas, gersang hanya padang yang luas memenuhi sebagian negeri tersebut, hujan pun suatu yang langka bagi mereka, turun 2-3 kali dalam satu tahun, itupun hanya sebentar. Di negeri ini kita bisa temukan hujan turun berhari-hari tanpa henti.

Hujan adalah rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambanya, pada bumi ini. Tanah yang telah lama kering, gersang, berubah menjadi hidup tak kali air hujan menyentuh bumi ini, “Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” Surat Al-Haj:5. Negeri-negeri yang curah yang tinggi adalah negeri yang subur, hijau dengan kebun-kebun dan sawah-sawahnya.

Segala nikmat yang kita terima, sekecil apapun itu pasti kita akan ditanya dan dimninta pertanggungjawabannya kelak “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” At-Takatsu:8. Kita harus bersyukur kepada Allah swt atas nikmat yang diberikan ini, dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Kita tidak ingin negeri ini berubah menjadi negeri yang tandus atau berubah bencana karena perbuatan kita. Allah menceritakan negeri Saba sebagai pelajaran bagi kita, negeri subur yang berubah menjadi tandus “[15] Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". [16] Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” Saba’:15-16. Kaum Saba adalah satu diantara empat peradaban besar yang hidup Arabia Selatan. Kaum ini diperkirakan hidup sekitar sekitar 1000-750 SM dan hancur sekitar 550 M. Ibukota dari Saba dalah Ma'rib yang sangat makmur, berkat letak geografisnya yang sangat menguntungkan. Ibukota ini sangat dekat dengan Sungai Adhanah. Titik dimana sungai bertemu Jabal Balaq sangatlah tepat untuk membangun sebuah bendungan. Dengan memanfaatkan keadaan alam ini, kaum Saba membangun sebuah bendungan di tempat dimana peradaban mereka pertama kali berdiri, dan sistem pengairan merekapun dimulai. Mereka benar-benarr mencapai tingkat kemakmuran yang sangat tingi. Ibukotanya yaitu Ma'rib, adalah salah satu kota termodern saat itu. Runtuhnya bendungan tersebut mengakibatkan "banjir besar Arim" yang disebutkan dalam Al Qur'an serta mengakibatkan kerusakan yang sangat hebat. Kebun-kebun anggur, kebun dan ladang-ladang pertanian dari kaum Saba yang telah mereka panen selama ratusan tahun benar-benar dihancurkan secara menyeluruh. Dan kaum Saba pun segera mengalami masa resesi yang terjadi setelah hancurnya bendungan tersebut. Negeri Saba berakhir dalam waktu tersebut yang dimulai dengan hancurnya bendungan.

Hujan yang turun tidak selamanya menjadi rahmat, menghidupkan negeri yang mati, tapi ia bisa menjadi azab dan petaka, coba perhatikan apa yang Allah cetikan dalam firmannya, “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” Asy-Syuara:173 ini adalah akhir dari sejarah kaum Luth ketika mereka tidak mematuhi nabi mereka, mereka memperturutkan hawa nafsu mereka, Allah turunkan kepada hujan batu yang membinasakan merka, dan jungkirbalikkan bumi mereka. Wal’iyaz billah.
Bagikan :
Newer Posts Older Posts
© Copyright Blog Syam
Back To Top