Sendiri itu Sepi

Seorang Ibu -mungkin sudah berkeluarga mungkin juga belum- duduk sendiri di sebuah warung makan, menikmati hidangan di hadapannya. Aku agak kasihan melihatnya, ada sesuatu yang hilang, ada yang kurang. Alangkah sempurnanya jika ditemani suaminya, atau anaknya atau mungkin temannya. Kebersamaan yang hilang.

Manusia adalah makhluk sosial, hidup bersama manusia dan saling membutuhkan. Seandainya manusia bahagia dengan kesendirian, tentu banyak yang akan memilh hidup di hutan, hidup sendiri, hidup dengan mudah dengan alam yang ada.

Manusia berteman dan mencari teman, forum-forum baik di dunia nyata atau maya bertebaran, menjalin ikatan persahaban, berdiskusi, bercerita, mencari solusi, atau mengikat persahabatan lama. Setiap kita membutuhkan orang lain.

Kita dengan segala keterbatasan tak mampu menyajikan segala kebutuhan hidup sendiri, sebagian kecilnya dari pribadi, dan sebagian besarnya dari orang di sekeliling kita. Untuk mengantar barang ke suatu daerah, kita membutuhkan kurir, untuk membangun rumah, kita jasa ahli bangunan, untuk mendapatkan pengetahuan dibutuhkan guru. Semua saling bergantungan.

Ketika seorang telah beranjak dewasa, laki-laki atau perempuan akan mencari pasangan hidupnya masing-masing, terjadilah pernikahan dan keturunan. Hidup bersama istri dan anak adalah indah dengan segala problematika hidup. Istri yang setia menemani hidup dan anak-anak buah hati.

Sungguh sangat menyedihkan, sepi di hari tua, saat raga sudah melemah, fisik tak sekuat waktu muda. Siapakah yang kan rela penuh cinta yang menemani kecuali orang-orang yang telah terjalin cinta, suami, istri, anak, dan cucu.
Bagikan :
Newer Posts Older Posts
© Copyright Blog Syam
Back To Top