Detikku

Setiap detik yang berlalu, akan tersimpan dan tak akan pernah kembali. Satu detik yang berlalu bisa menjadi kebanggaan bahkan bisa berubah menjadi petaka, tapi sebagian besar tidak merasakan itu, detik itu berlalu begitu saja. Imam Hasan Bashri rahimahullah berkata, "Kamu hanyalah kumpulan hari-hari ini, jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah berlalu dan hilang." Karena waktu itu adalah hidup, menyia-nyiakan waktu adalah membunuh kehidupan. Menyianyiakannya adalah penyesalan, karena hari itu tetap terekam dalam dalam lembaran penyesalan. Hari selanjutnya bukan hari sebelumnya.

Waktu yang kita miliki adalah waktu yang kita hadapi sekarang, waktu dimana kita berada di detik ini, sebelum jarum jam bergeser beranjak ke waktu yang lain. Detik ini adalah emas di tangan kita, dalam genggaman, besok boleh jadi ada emas yang lebih baik dan lebih besar, tapi itu masih dalam khayalan, boleh jadi itu bukan milik kita. Maka, apa harus kita buuang emas di tangan kita, berhapa emas yang esok hari? Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Jika kamu berada di waktu sore, maka janganlah menunda sampai pagi, dan jika kamu berada di waktu pagi, maka janganlah menunda sampai waktu sore."

Hari-hari yang telah berlalu seakan seperti mimpi, lalu kita tersadar di detik ini, atau mungkin tersadar ketika rambut sudah memutih, atau punggung sudah tidak bisa diteggakkan, atau tersadar ketika kita harus berjalan dengan bantuan tongkat karena umur yang sudah tidak muda lagi. Seburuk-buruk itu adalah yang tak pernah tersadar sampai nyawa tak menyatu dengan badan lagi. Kita akan terdiam di hadapan firman Allah ta'ala, "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" QS. Faathir: 37.

Kembali bersama waktu, mengiringi setiap pergeseran waktu dengan amal shaleh, perbuatan yang bermanfaat bagi pribadi dan orang lain. Sahabat Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya akhirat telah berjalan mendekat dan dunia mundur ke belakang, sesungguhnya kedua-duanya mempunyai anak-cucu, maka jadilah anak-cucu akhirat dan janganlah menjadi anak-cucu dunia." Dengan memandang kedepan, menyipakan segala bekal untuk hari perhitungan. Memandang dunia, selayaknya sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dunia ini, beliau bersabda, "Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi)
Bagikan :
Newer Posts Older Posts
© Copyright Blog Syam
Back To Top